Dunia LiterasiMotivasi

Sarapan Pagi

Pagi ini, aku disuguhi dingin yang betul-betul menggigit sampai ujung-ujung jari kaki memutih.

Menu lain yang turut hadir ialah secangkir kopi hitam yang sejujurnya aku sendiri tidak yakin untuk meminumnya mengingat kondisi badan yang tidak fit 100%, asam lambung akan rentan sekali naik tapi aku memilih tidak peduli.

Riuh ramai jalanan Jogja jadi menu ketiga pagi ini. Wajah-wajah yang berseliweran dengan isi kepala dan ‘sarapan pagi’ yang berbeda-beda turut warnai aspalnya.

Kali ini biarkan aku mengukir aksara.

Walau aku tahu ini akan sangat jauh dari kata sempurna, tapi biarlah. Apa salahnya mencoba?

Tenang saja, rangkaian ini tidak akan membahas soal rindu, hujan, dan sendu. Tulisan ini tentang sejumput kebahagiaan yang diracik dengan kebaikan. Untuk para pejuang kebaikan. Tulisan ini kupersembahkan untuk kalian.

Baiklah. Kita mulai dengan racikan.

Kalian tahu? Untuk membuat sesuatu yang menakjubkan mesti membutuhkan berbagai komponen dan ramuan. Begitupula kebaikan. Menciptakan kebaikan; pikiran, hati, dan perbuatan baik dalam diri sendiri maupun bagi orang lain jualah butuh padanya berbagai ramuan. Ramuan antara sabar dan ikhlas yang dibungkus rapi dengan keyakinan.

Jujur sajalah, dalam hari-hari yang kalian jalani bukankah kalian pernah dapati saat-saat yang menyulitkan?

Saat di mana keputusasaan datang bak mendung yang memayungi? Saat di mana kata menyerah menjadi pilihan kala merasa kebaikan-kebaikan yang selama ini kita curahkan, perjuangan yang kita perjuangkan, dan banjir peluh kelelahan seakan sia-sia, tanpa makna dan berharga?

Aku yakin mayoritas teman-teman pasti mengiyakan pelan-pelan.

Ya. Hampir semua dari kita pasti pernah merasakan kekalutan dan kegelisahan seperti itu.

Namun, kalau mau kembali mengingat, kita sebetulnya hidup untuk diri kita sendiri. Bukan untuk orang lain.

Kita hidup dengan prinsip, dedikasi, dan pilihan yang mandiri.

Kebaikan-kebaikan yang kita lakukan, sekecil dan sesederhana apapun itu alokasinya akan kembali ke tabungan amal kita untuk akhirat. Bukan untuk orangtua yang kau kasihi, bukan untuk teman yang kau cintai, bukan untuk orang asing di pinggir jalan, bahkan bukan pula untuk kucing yang kau cela karena buang kotoran sembarangan.

Tidak perlu merasa terbebani dengan balasan. Jangan terbuai dalam harapan bahwa suatu saat nanti kita akan menerima balas budi dari orang lain karena kebaikan yang kita lakukan. Jangan menyiksa diri dengan berbagai tuntutan-tuntutan.

Coba tengok lagi apa saja ramuan kebaikan; sabar, ikhlas, yakin.

  • Sabar dalam menebar kebaikan, dalam membenahi diri menuju kebaikan, serta dalam rintangan mempertahankan kebaikan yang ada.
  • Ikhlas untuk terus menjalaninya tanpa mengharap apa-apa dari manusia. Karena kita tahu bahwa kita hanya akan diminta pertanggungjawaban atas diri kita.
  • Yakin bahwa di sana ada Dzat Yang Maha Tahu segalanya dan Maha Mampu membalas dan mengapresiasi sebuah kebaikan dari hamba-Nya walau hanya secuil kuku. Yakinlah, jika tidak ada manusia yang sadar akan kebaikanmu, sejatinya ada Rabb di atas sana yang Maha Bersyukur atas kebaikan hamba-hambaNya.

Tetapilah kebaikan untuk dirimu dan orang-orang yang kau temui. Jangan pernah harapkan balasan kecuali dari Rabb Semesta Alam. Usahakanlah kebaikan di manapun kau berada. Mulailah dari yang ringan karena kebaikan tak butuh hal-hal yang terlalu muluk dan berharga mahal.

لا تحقرنّ من المعروف شيئاً  و لو أن تلقى أخاك بوجه طلق))  أو كما قال رسول الله صلى الله عليه و سلم))

Dalam sebuah hadis Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Jangan sepelekan kebaikan sedikit pun walau kau (sekedar) bertemu saudaramu dengan wajah yang ceria”

Mulailah dengan senyuman dan sapaan ringan pada wajah-wajah murung yang kau jumpai dan tularkanlah senyum hangat itu pada bibir-bibir mereka.

Usir ‘mendung’ pagi dengan kesahajaan, bantulah mereka, singkirkan ranting yang mengganggu jalan, beri makan ayam, buang kembali sampah tisu yang luput masuk pada tempatnya, kibaslah keset yang berdebu, ciptakan syukur tiap deru nafasmu.

Sungguh, kebaikan itu sangat luas. Tak akan muat lembar-lembar sempit ini untuk menulis semuanya.

Seperti itu jualah kebahagiaan, ia sangat sederhana. Tidak perlu kau pergi berkeliling dunia dan ‘menjarah’ semua tempat untuk menemukannya. Kebaikan dan kebahagiaan bersinergi dalam satu jiwa jika ia betul-betul mengikuti resepnya. Dua kata itu saling bergandengan seperti lingkaran yang tak punya sudut dan garis putus.

Kebaikan itu sederhana. Sama jua dengan kebahagiaan. Jangan menuntut lebih. Dadamu tidak akan kuat jika realita yang ada berkontradiksi dengan harapan-harapan tinggi mendunia.

Fokus saja.

Kebaikan itu ada dalam kebahagiaan dan kebahagiaan itu ada dalam kebaikan. Sesederhana itu.

***

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullohu ta’ala memberikan petuah yang sangat indah dan termaktub dalam Majmu’ Al Fatawa (1/51). Singkatnya begini,

  • Kebahagiaan dalam berinteraksi kepada sesama dapat diraih dengan beberapa cara:
  • Engkau bermualah (melakukan interaksi) dengan manusia karena Allah. Engkau mengharapkan pahala kepada Allah dalam muamalah tersebut.
  • Engkau takut kepada Allah dalam muamalah tersebut (agar tidak bertindak jahat). Namun, jangan takut kepada mereka saat berada di jalan Allah.
  • Engkau pun juga harus berlaku baik kepada mereka demi mengharapkan ganjaran dari Allah. Namun, jangan pernah mengharapkan balas budi mereka.
  • Yang terakhir, engkau menahan diri untuk tidak menzalimi mereka karena takut kepada Allah. Namun, bukan karena takut kepada mereka.


Wallahu a’lam bish showaab

Ditulis oleh Sahabat Portal Buku, Sa*** A**** dari Samarinda

4 Komentar

  1. MaasyaAllah sarapan yang sehat. Dibumbui racikan kata-kata bersayap menambah citarasa dalam membaca.
    Teruslah untuk menjadi karya raya, sahabat PortalBuku!
    Baarakallahu fiikum

    1. Alhamdulillah. Terima kasih sudah berziarah ke Portal Buku. Selain baca buku, jangan lupa minum madu. Cocok banget, tuh, gizi untuk otak dan vitamin untuk tubuh. Sehat-sehat, ya!

  2. Membaca deret aksara ini serasa lebih mengenyangkan dan bernutrisi dari sarapan pagi sepotong roti dan segelas lemon tea. Ah, bicara perihal rindu memang ada ruang tersendiri. Tidak harus menunggu hujan, khawatir nanti rindu akan semakin menjadi. Iya, rindu yang masih sama seperti dulu, bersua di majelis ilmu. Semangat menebar kebaikan dan kebahagiaan. Selamat sudah dimuat tulisannya! MasyaAllah..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button