Kutipan Buku

Perjuangan Hijrah: Kau Buka Pintu Hatiku

“Hijrah”, sebuah kata yang populer di kalangan remaja masa kini. Hijrah membutuhkan perjuangan dan usaha yang keras dalam mendidik diri.

Ada banyak kisah sukses hijrah. Namun, tentu di balik kesuksesan ada kisah perjuangan melawan kepedihan. Ganasnya hawa nafsu dapat saja membuat kisah perjuangan hijrah menjadi kandas.

Setidaknya, kisah berikut ini akan menginspirasi Sahabat Portal Buku agar sukses dalam perjuangan hijrahnya.

Diriku sebelum Bertekad Perjuangan Hijrah

Dulu aku anak urakan yang sering menjadi perbincangan banyak orang. Mungkin hampir semua orang yang kukenal, mengenaliku sebagai jiwa pendosa, terkhusus orang-orang terdekatku, yakni keluargaku sendiri.

Di mata mereka, mungkin aku hanyalah seorang gadis berandalan yang tidak beraturan dan tidak memiliki tujuan. Aku hanya setitik noda hitam yang mengotori kehormatan keluarga.

Aku hanyalah sekelumit alur yang menyimpang dari kisah perjalanan hidup mereka. Aku menyadari tentang penilaian mereka tersebut, dan memang saat itu aku merasa akulah gadis yang paling hina.

Kala itu, aku masih duduk di bangku SMA yang masih labil dan mudah terombang-ambing.

white and black motor scooter parked near building
Photo by Pixabay on Pexels.com

Ketika perasaan egoku semakin membara aku lebih memilih tinggal bersama teman-teman (nge-kost) dibanding harus tinggal di rumah Uwa (Pakdhe; kakak laki-laki ibu).

Sejak itulah perilakuku semakin tak terkendali dan semakin pantas dibenci. Aku semakin akrab dengan teman-teman dalam pergaulan remaja yang sangat jauh dari bimbingan agama.

Dan aku yang jauh dari pantauan orang tua pun bisa dengan leluasa bergelayut mesra dengan dunia maya.

Tak jarang pertikaian terjadi antara aku dan Uwa yang tinggal sekota. Perang dingin yang acap kali terjadi seringnya kulalui dengan menang sendiri.

Karena ulahku yang seperti itu, kemudian menyebabkan Uwa berlepas diri, tak sanggup lagi mengurusiku. Sedangkan orang tuaku yang berbeda kota tidak mengetahui keadaanku yang sebenarnya.

Sebenarnya sudah datang nasihat-nasihat berharga pula dari orang tua.

Namun nasihat-nasihat itu hanya terbaca sekejap mata, sedangkan hatiku masih tetap tak terbuka.

Teman Buruk, Petaka dalam Perjuangan Hijrah

Pergaulan dengan teman-teman yang tanpa didasari agama menjauhkanku dari dekapan orang tua. Menjauhkan dan membuatku lupa bahwa aku memiliki Rabb kemudian juga orang tua. Duniaku waktu itu adalah dunia remaja.

Berlarut-larut menghabiskan waktu bersama teman-teman bernikmat-nikmat dengan kemaksiatan, melalaikan tugas, dan kewajiban.

Aku hanya setitik noda hitam yang mengotori kehormatan keluarga. Aku hanyalah sekelumit alur yang menyimpang dari mereka.

Aku menyadari seperti berada di hutan kisah perjalanan hidup tentang penilaian mereka tersebut, dan memang saat itu aku merasa akulah gadis yang paling hina.

forest during day
Photo by Ian Beckley on Pexels.com

Aku benar-benar rimba yang begitu gelap gulita. Tidak ada sedikit pun cahaya di dalamnya, Aku tersesat dan tak tahu arah mana yang harus kutempuh sebagai jalan keluar menuju cahaya.

Sungguh mata dan hatiku telah dibutakan oleh kelezatan dunia. Nasihat-nasihat ibu yang sering beliau ucapkan serasa hilang, yang terlihat hanya kesenangan yang sebenarnya membinasakan.

Meskipun terkadang aku menyadari juga bahwa aku anak yang tak tahu berbalas budi dan tak pantas disayangi. Akan tetapi apalah daya waktu itu aku masih tergoda oleh bisikan setan yang tak bisa kuhindari. Astaghfirullah.

Namun, sepandai-pandainya tupai melompat akhirnya jatuh juga. Sepandai-pandainya aku merahasiakan keadaanku yang sebenarnya di hadapan orang tua akhirnya Allah pun menampakkannya.

Sebuah Awal Pintu Hijrah

Entah darimana mereka mengetahuinya atau mungkin juga dari Uwa. Tanpa berlama-lama, mereka langsung mendatang tempat indekosku.

Malam itu juga, jauh-jauh dari lain kota, mereka membawaku pergi dari tempat itu. Ya, Allah kota betapa tak tahu malunya aku!

Dari tempat indekos tercela itu, aku kemudian dititipkan ibu di rumah seorang ummahat yang memiliki tiga orang anak masih kecil.

Kutahu kemudian, suaminya sedang mencari nafkah di negeri orang. Waktu itu aku menginjak kelas tertinggi di SMA.

Sekolahku masih lancar, pun dan cita-cita ‘berjas putih, berkalung stetoskop’ masih utuh. Hidup terpisah dari teman-teman jelek, tampaknya mulai memberikan pengaruh pada diriku.

Bersama Orang Baik, Membantu Perjuangan Hijrahku

Seiring dengan berjalannya waktu, pikiran-pikiran sehat mulai mendatangiku. Aku mulai berintrospeksi diri. Menyadari kesalahan-kesalahan yang selama ini aku lakukan.

Alhamdulillah, kasih sayang Allah tak pernah ada batasnya. Kini aku sangat bersyukur, akhirnya bisa meninggalkan tempat yang seperti neraka itu.

Semenjak tinggal bersama ummahat itu, aku mulai mengenal ajaran agama yang semula agak asing di hatiku. Aku mulai mengerti tentang makna berhijab syar’i.

interior of old islamic palace with ornamental dome
Photo by Levent Simsek on Pexels.com

Ternyata selama ini yang kukenakan hanyalah sebatas penutup kepala yang melindungi kepala dari panasnya sengatan matahari? Astaghfirullah, aku benar-benar telah jauh dari bimbingan agama yang sebenarnya.

Aku menjadi teringat. Dulu selama tinggal bersama Uwa, sebenarnya beliau sering mengajakku taklim ke pondok. Namun aku jarang memenuhi ajakan tersebut dengan alasan tak sepemahaman.

Bahkan aku acapkali menentang beliau sehingga membuat beliau marah dan kehabisan kesabaran.

Sampai akhirnya aku memutuskan untuk tinggal bersama teman-teman di tempat indekos yang kuceritakan di depan tadi.

Dakwah Salafi Penuntun Hijrahku

Kini kuketahui itulah tempat dakwah salafi yang sekarang sedang kupijaki sebagai penerang bagi kesesatanku selama ini.

Kini baru kusadari bahwa yang adalah kebenaran.

Dulu sebenarnya aku pun pernah sekali-kali mengerjakan nasihat ibu dan Uwa tentang ini dan itu. Tetapi, waktu itu aku mengerjakannya hanya karena menunaikan perintah tanpa mengerti arti dan tanpa membuka hati.

Jika mengingat masa laluku itu, hatiku serasa sangat menyesal. Kalau boleh berandai andai, aku mungkin akan mengatakan, “Andaikan waktuku dapat kembali …” sampaikan

Teruntuk Saudaraku

person holding a silver keychain with a key
Photo by Kindel Media on Pexels.com

Saudaraku seperjuangan yang dirahmati Allah, kita tak pernah tahu kapan hidayah itu datang menghampiri.

Hendaknya kita memanfaatkan waktu sebaik-baiknya dan bergaul dengan orang orang yang saleh Janganlah mudah terpedaya dengan kelezatan dunia yang memang menggiurkan jiwa.

Ketahuilah itu semua semata-mata adalah fitnah belaka dan kebinasaan yang nyata.

Sebagai bentuk permohonan maafku pada orang tua, kutulis secarik surat penuh cinta, berharap Allah mengampuni dosaku dan orang tua memaafkan segenap kesalahanku.

Dengan menyebut nama Allah yang jiwaku berada di tangan-Nya

Aku bersaksi bahwa tiada ilah yang berhak disembah kecuali Allah,

Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah.

Teruntuk Ayah dan Ibu yang aku sayangi dan aku hormati Salam rindu aku haturkan, semoga Allah menjaga kita dari berbagai kesalahan

Aku berdoa kepada Allah memohon ampunan atas segala kekhilafan yang raga ini lakukan

Ayah-Ibu, dengan rahmat Allah saat aku sedang bersimpuh di hadapan-Nya

Merenungi dosa dalam diri yang hina ini, di keheningan malam aku bermunajat pada-Nya Terselip pula harapan, kalian sudi memaafkan segala ketergelinciran.

Ayah-Ibu.kalian yang tersakiti atas kezalimanku selama ini.

Perkenan aku memperbaharui akhlak dan pribadiku. Restuilah aku yang sedang berusaha menghapus d dosa yang hampir saja menjerumuskan aku ke neraka dosa Maafkanlah diri hina yang berlumuran dosa ini sebelum ruh meninggalkan raganya.

Ayah-lbu. Saksikanlah perjuanganku dalam menggapai mahkota yang akan aku kenakan untuk kalian. Mahkota yang akan menyilaukan setiap mata yang memandangnya.

Yang tiada seorang pun yang membelinya, kecuali Allah yang akan memberinya.

Ayah-ibu, ‘kan kugenggam erat nasihat kalian berdua. Meski kalian tidak di sampingku, tapi kini aku sadar, Allah Maha mengawasiku. Kini, aku tengah berusaha mengalahkan hawa nafsu yang membinasakan

Aku bergelut berperang melawan kebodohan yang telah mengakar dalam diriku Mencoba membuka hati yang telah lama diselubungi kemaksiatan.

Ayah-Ibu, kuucapkan terima kasih- jazakumullah khairan katsiiran.

Atas pengorbanan kalian dalam mentarbiyahku. Atas kesabaran kalian dalam membesarkanku Padahal aku sering melalaikan pengajaran kalian bahkan justru menentangnya.

Dan inilah hukumanku, biar aku sendiri yang menanggungnya. Terbayang-bayang oleh dosa-dosa yang selalu menghantui hidupku.

Semoga Allah mengabulkan pintaku Mengumpulkan kita dalam surga-Nya. Aamiin.

Semoga keberkahan dan keselamatan tercurah untuk Ayah dan Ibu.

Inilah permohonan maaf untuk Ayah dan Ibu. Dari buah hati yang sedang thalabul ‘ilmi.

Simak selengkapnya dalam buku “Secercah Cahaya Hidayah”:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button