Cerita

Mencekam: Kenangan Wabah Di Kota Basrah

Sahabat Portal Buku.. Mari sejenak kita singgah di kota Basrah, sebuah kota indah nan megah yang ada di wilayah Irak. Saking indahnya kota itu hingga memiliki sapaan ‘Venesia’-nya Timur Tengah.

Namun, saat ini kita kembali menuju tahun 688-689 Masehi, yaitu tiga belas abad yang lalu. Sebuah prahara besar telah melanda kota tersebut. Wabah telah meluluhlantakkan dan menghancurkannya hingga tak tersisa penghuninya kecuali sedikit saja.

Jenis Wabah

Wabah tersebut dinamakan Tha’un al-Jarif oleh para ahli sejarah. Lain halnya dengan wabah covid-19 yang tengah kita hadapi ini. Wabah al-Jarif lebih ganas. Dia membunuh korbannya dengan cepat dan menular hanya dengan waktu yang singkat.

Jumlah Korban Wabah

Imam Ibnul Jauzi mengisahkan, bahwa pada bencana tersebut, telah wafat delapan puluh anak keturunan Sahabat Anas bin Malik radhiyallahu’anhu. Pemimpin kota Basrah saat itu adalah Ubaidullah bin Abdillah bin Ma’mar. Namun, ternyata ibunya tak luput dari musibah tersebut. Ibunya gugur, bahkan pemulasaraan jenazahnya hanya dihadiri oleh empat orang.

Tha’un al-Jarif memang hanya terjadi selama empat hari, tetapi di hari pertama, telah gugur 70.000 jiwa.

Di hari kedua, telah gugur 71.000 jiwa.

Di hari ketiga, telah gugur 73.000 jiwa. Dan di hari keempat, telah gugur seluruh penduduknya kecuali hanya segelintir orang saja.

Pengakuan Saksi Mata

Abu Bughail adalah salah satu penduduk yang selamat dari musibah tersebut. Namun, ada sebuah kejadian menakjubkan yang beliau saksikan, sebuah keajaiban yang tidak beliau lupakan.

Kita persilakan saja beliau mengisahkan:

Pada kejadian itu, kami mengelilingi perkampungan demi perkampungan, kami mengumpulkan mayat demi mayat, dan kami menguburkannya.

Akan tetapi, di saat angka kematian begitu tinggi, mayat-mayat menumpuk hingga kami tak mampu lagi mengatasinya. Maka, di saat kami menjumpai sebuah rumah yang telah gugur seluruh penghuninya, kami hanya menyegel pintu rumahnya.

Kami pernah memeriksa sebuah rumah. Kami menduga telah gugur seluruh penghuninya. Maka kami segel pintu rumah tersebut.

Kemudian, di saat masa-masa wabah telah berlalu, kami mengitari perkampungan demi perkampungan. Kami membuka pintu-pintu rumah yang telah kami segel sebelumnya.

Kejadian Aneh saat Wabah

Tibalah kami di sebuah rumah yang kami menduga telah gugur seluruh penghuninya. Kami membuka pintunya dan kami masuk. Kami memeriksanya kembali. Tiba-tiba, kami melihat anak kecil merangkak di tengah ruangan.

Kami pun mendatanginya. Sungguh menakjubkan, anak kecil itu terlihat segar, seakan-akan baru saja dirawat oleh ibunya. Kami terus berdiri memandangi bocah itu dengan penuh keheranan.

Tak lama kemudian, seekor anjing betina datang dari celah pintu. Merangkaklah anak itu ke arahnya, dan ternyata dia menyusu dari anjing betina tersebut. Anjing itulah yang selama ini telah merawatnya.

Salah satu penduduk Basrah yang bernama Ma’di berkata, “Aku pernah melihat anak itu di masjid Basrah. Dia sedang duduk memegang jenggotnya.”

Rupanya, anak tersebut bertahan hidup di hari-hari wabah tanpa ayah dan ibunya, bahkan dia tetap hidup hingga dewasa.

Sumber Referensi: Uyunul Hikayat hal. 394 karya al-Imam Ibnul Jauzi rahimahullah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button