Dunia Literasi

Bikin Haru! Meski Dipandang Sebelah Mata, Pemuda itu Ternyata Berdarah Biru

Seorang yang sangat gemar beribadah bernama Abdullah bin al-Faraj pernah merasakan kejadian yang sangat menakjubkan dalam hidupnya.

Sebuah kejadian tentang seorang pemuda yang pernah menjadi pekerja untuknya. Namun, sebuah kisah berlanjut hingga membuat Abdullah masuk ke dalam istana khalifah. Duhai, ada apa?

Mari, kita persilakan saja beliau sendiri yang mengisahkan kejadian tersebut:

Suatu hari, aku membutuhkan seorang pekerja untuk rumah kami. Maka, aku mendatangi pasar dan melihat para pekerja yang ada di sana.

Ketika para pekerja itu menanti panggilan, ternyata aku menjumpai seorang anak muda di barisan terakhir. Pemuda itu berkulit putih, di hadapannya terdapat alat untuk bekerja, dan dia memakai pakaian wol yang kasar.

Maka aku bertanya kepadanya, “Nak, kamu mau kerja?”

“Mau,” katanya.

“Berapa upahmu sehari?” tanyaku lagi. 

“Satu dirham satu daniq,” katanya.

Maka aku berkata, “Baiklah, saya setuju. Mari ikut paman ke rumah.”

“Namun ada satu syarat,” kata anak itu.

“Apa syaratnya?”

“Jika waktu zuhur telah tiba dan adzan telah berkumandang, maka saya akan keluar, saya berwudhu lalu shalat jama’ah di masjid. Setelah itu saya akan kembali. Dan di waktu ashar nanti, saya akan melakukan demikian,” kata anak itu meminta.

“Baiklah,” kataku mengabulkan permintaannya.

Anak muda itu kemudian jalan bersamaku hingga sampai rumahku. Aku pun menyetujui pekerjaan dia untuk memindahkan barang-barang dari satu tempat ke tempat yang lain.

Hasil pekerjaannya sangatlah baik. Dia sangat bersungguh-sungguh, hingga tidak mengajakku berbicara sedikitpun. Saat waktu shalat dzuhur tiba.

Anak muda itu juga memanggilku berkata, “Wahai paman! Sudah adzan!.” 

“Ya, silakan!” kataku.

Dia pun keluar untuk shalat. Setelah selesai, dia kembali dan melanjutkan pekerjaannya. Hasil pekerjaan anak muda ini sangatlah bagus. Dan di saat waktu ashar tiba, dia kembali berkata, “Wahai paman! Sudah adzan!.”

“Ya, silakan!” kataku.

Maka dia keluar untuk melaksanakan shalat ashar. Lalu dia kembali dan melanjutkan pekerjaannya. Dia terus bekerja hingga akhir waktu sore. Setelah selesai, aku pun memberi upah untuknya. Lalu dia pulang.

Beberapa hari kemudian, aku membutuhkan tenaga tukang kembali. Istriku pun berkata kepadaku, “Panggil saja anak muda yang kemarin, karena dia telah bekerja dengan baik untuk kita.”

Maka aku menuju pasar, mencari anak muda itu. Namun, aku tak menemukannya. Aku bertanya ke orang-orang sekitar.

Mereka pun berkata dengan agak merendahkannya, “Kamu cari anak malang itu? Anak yang hanya bekerja di hari Sabtu? Anak yang suka duduk sendirian di pojokan?”

Karena dia hanya datang di hari Sabtu, aku kembali pulang.

Di hari Sabtu berikutnya, aku kembali ke pasar. Maka aku melihat anak muda itu. Lalu aku bertanya kepadanya,”Nak, kamu mau kerja?”

Dia berkata, “Baik, dan paman sudah tahu upah yang aku minta, serta syaratnya.”

“Ya, beristikharahlah kepada Allah!” kataku.

Dia pun mengikutiku. Lalu bekerja dengan baik seperti sebelumnya. Setelah selesai, aku memberinya upah sekaligus tambahan upah untuknya. Tapi dia menolak.

Aku tetap memintanya agar mau mengambilnya.

Namun, dia justru merasa kesal dan meninggalkanku. Hal ini membuatku penasaran. Maka aku mengikutinya serta membujuknya, paling tidak, dia mau mengambil upah kerjanya saja.

Setelah beberapa waktu, aku membutuhkan jasa anak muda itu kembali. Aku pergi ke pasar dan mencarinya. Namun lagi-lagi tak menjumpainya padahal hari itu adalah hari Sabtu. Aku pun bertanya kepada orang-orang.

Maka ada yang berkata, “Anak muda itu sedang sakit.”

Di antara mereka juga memberi kabar, “Anak muda itu hanya bekerja di hari Sabtu sampai Sabtu berikutnya. Upahnya memang hanya satu dirham satu daniq. Jadi dalam sehari, kebutuhan dia hanya tercukupi dengan satu daniq saja. Dan sekarang dia sedang sakit.”

Maka aku diberitahu di mana anak muda itu tinggal. Aku pun mendatanginya. Ternyata, dia tinggal bersama seorang nenek yang tua renta. Lalu aku bertanya,”Dimana anak muda Pekerja itu?”

“Dia sakit sejak beberapa hari lalu,” kata nenek itu.

Aku pun masuk menemuinya. Benar, aku melihatnya sedang sakit. Dan dia terbaring hanya berbantal dengan batu di bawah kepalanya. Aku mengucapkan salam kepadanya, dan bertanya, “Nak, apakah kamu butuh sesuatu?”

“Iya, bila paman mau menerimanya” katanya.

“Ya, aku mau menerimanya insyaAllah.”

Dia pun berkata, “Paman, bila aku meninggal, juallah tali ini. Kemudian cucilah baju dan kain wol milikku. Lalu gunakan keduanya untuk mengkafaniku.

Setelah itu, bukalah tutup kantung bajuku, paman akan mendapati sebuah cincin. Maka bawalah cincin itu, dan tunggulah hari saat Khalifah Harun Ar-Rasyid lewat bersama para pelayannya.

Lalu paman berdiri di tempat yang dapat dia lihat. Ajaklah dia berbicara. Dan perlihatkan cincin itu. Tapi jangan lakukan itu kecuali setelah aku meninggal dunia.”

Setelah mendengar pesan ini, aku berkata, “Baik nak, aku akan melaksanakannya.”

Anak muda itu meninggal. Maka aku menjalankan apa yang dia pesankan. Aku menunggu waktu lewatnya Harun Ar-Rasyid bersama pelayannya.

Saat waktunya tiba, aku menunggu di jalan yang akan dilalui Harun Ar-Rasyid. Ketika beliau lewat, aku memanggilnya dan berkata, “Wahai Amirul Mukminin! Aku membawa titipan untukmu.” Aku pun menunjukkan cincin itu kepadanya.

Harun Ar-Rasyid pun melihatku. Beliau pun memerintahkan pengawalnya untuk membawaku kepadanya. Aku dibawa hingga masuk ke istana. Setelah itu beliau memanggilku untuk bertemu. Dan memerintahkan orang-orang yang berada di majelisnya untuk keluar.

Setelah sepi, beliau bertanya kepadaku, “Siapa engkau?”

Aku berkata, “Abdullah Al-Faraj.”

Lalu dia bertanya, “Cincin ini, dari mana engkau mendapatkannya?”

Aku pun menceritakan tentang kisah anak muda itu. Mendengar apa yang aku sampaikan, Khalifah Harun menangis sehingga aku merasa kasihan kepadanya.

Setelah beliau merasa tenang, aku bertanya kepadanya, “Wahai Amirul Mukminin, siapakah anak muda itu?”

Beliau berkata, “Dia adalah putraku.”

Maka aku terkejut, dan berkata, “Bagaimana putramu bisa menjadi seperti itu?”

Lalu beliau mengisahkan, “Purtraku ini dilahirkan sebelum aku diuji dengan jabatan kekhalifahan ini. Dia adalah anak yang diasuh dengan pengasuhan yang baik.

Dia belajar Al-Quran serta ilmu lainnya. Saat aku diangkat sebagai raja, dia meninggalkanku. Dia tidak mau mengambil sedikitpun dari duniaku. Maka aku memberikan cincin ini kepada ibunya.

Cincin ini terbuat dari yaqut, dan sangat mahal. Aku berkata kepada ibunya, ‘Berikanlah cincin ini kepadanya, dan mintalah agar cincin ini selalu bersamanya.’

Dengan harapan, barangkali dia akan memerlukannya suatu hari nanti. Dia adalah anak yang sangat berbakti kepada ibunya.

Setelah ibunya meninggal, aku tidak mendengar lagi kabar tentangnya, kecuali dari yang engkau sampaikan tadi. Pada saat malam tiba, pergilah bersamaku ke kuburnya.”

Saat malam tiba, beliau berjalan tanpa diiringi pasukan, bersamaku ke kubur anaknya hingga sampai di kuburnya. Dia kemudian duduk di kubur putranya dan menangis dengan tangisan yang mengharukan.

Setelah fajar menyingsing, kami bangkit dari tempat itu dan kembali pulang. Maka Amirul Mukminin berkata kepadaku, “Engkau hendaknya menemaniku beberapa hari ke depan untuk menziarahi kuburnya.”

Aku pun menemani beliau berziarah pada malam berikutnya, hingga kemudian beliau kembali ke tempatnya.

Aku tidak pernah tahu kalau anak muda itu adalah putra Khalifah Harun Ar-Rasyid hingga Harun Ar-Rasyid mengatakan kepadaku bahwa dia adalah anaknya. -Kisah Selesai-


Nama anak muda itu adalah Ahmad, dan orang-orang mengenalnya dengan panggilan Sabti.

Anak muda! kisah di atas mengajarkan kepada kita agar mengenyahkan ambisi dunia dari hati kita. Lihatlah putra raja yang berbagai dunia ada di bawahnya, namun ia enggan mendekatinya, bahkan ia memilih menjauh dan bersembunyi, enggan pamer siapa sebenarnya dirinya.

Namun kita yang diberi dunia tak seberapa, justru pamer, sombong dan merendahkan saudara kita yang lain.

Imam Nawawi rahimahullah menukilkan sebuah syair,

إِنَّ للّٰهِ عِبَادًا فُطَانَا   طَلَّقُوْا الدُنْيَا وَ خَافُوْا الفِتَنَا

نَظَرُوْا فِيْهَا فَلَمَّا عَلِمُوْا   أَنَّهَا لَيْسَتْ لِحَيٍّ وَطَنَا

جَعَلُوْهَا لُجَّةً وَ اتَّخَذُوْا   صَالِحَ الأَعْمَالِ فِيْهَا سُفُنَا

“Sesungguhnya Allah memiliki beberapa hamba yang cerdas. Mereka menceraikan dunia khawatir akan fitnahnya. Mereka merenung, dan mengertilah mereka, bahwa dunia bukan tempat hidup yang abadi. Mereka menganggap dunia bagaikan samudera, dan mereka gunakan amal saleh sebagai bahtera.”


Sumber referensi:

At-Tawwabin hal. 170, al-Imam Ibnu Qudamah al-Maqdisi

Shifatus Shafwah hal. 339, al-Imam Ibnul Jauzi

Tanbih al-Ghafilin (2/681), al-Imam Abu Laits as-Samarqandi

Al-Ghuraba’ (45), al-Imam Abu Bakar al-Ajurry

Al-Bidayah wa an-Nihayah (10/184), al-Imam Ibnu Katsir

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button