Cerita

Kisah Ibu: Kasihi Sebelum Pergi!

“Wali pasiennya siapa? Silakan masuk!”. Suara decit pintu dan perawat mengalihkan lamunanku. Tubuhku gemetar karena takut, perasaanku tak karuan.

Aku tak siap dengan penjelasan dokter nanti. Namun, mau tak mau memang harus kuhadapi. Aku menghela nafas kasar sebelum memasuki ruangan yang begitu aku takuti.

Bersama bapak dan pamanku, aku membuka pintu seiring dengan basmalah yang kuucap dalam hati, pun air mata yang berusaha aku tahan.

Di hadapanku ada seseorang yang memakai jas putih dengan stetoskop yang menggantung di lehernya.

 “Pembuluh darah ibu pecah di otak”. Dokter itu menjelaskan hasil rontgen, dan hanya itu yang aku tanggap.

Ruhku seolah tak utuh. Seketika aku menjadi amat rapuh. Jika saja tak duduk di kursi mungkin saja aku sudah luruh.

“Biaya operasinya 200 juta. Belum dengan biaya kamar dan obat. Itu juga nggak menjamin ibu bisa langsung sadar. Bisa aja nanti di ruangan operasi gagal dan ibu meninggal di meja operasi. Ya, presentase keberhasilannya 50% dan gagal 50%. Jadi memang nggak ada jaminan.”

Oh Allah, aku mati rasa seketika. Air mata jatuh tak aku sadari. Rasanya cadar ku basah sekali. Aku tetap berusaha mengumpulkan kesadaranku.

Namun, ingatanku malah melalang buana dengan pertanyaan adikku siang itu, melihatnya memilin jari seraya berkata “Mbaa.. Mama kenapa?”.

Aku tak bisa menjelaskan apapun, aku hanya bisa tersenyum yang tentu saja dia tak melihatnya.

“Doain mama, ya..”, hanya itu yang bisa aku katakan padanya.

Kemudian memeluknya, aku tak kuasa berbuat apapun. Dan kami bingung, darimana uang sebanyak itu bisa kami dapatkan.

“Tapi sekarang ruang ICU penuh, Pak!”.

Lagi-lagi aku harus tersadar dari lamunan dengan realita yang menyakitkan. Malam menjadi saksi bisu betapa aku membantah kenyataan dalam rapal hati. Dalam lubuk hati aku selalu menyanggah yang sedang terjadi.

Tidak tidak! Sore tadi mama baru saja bercengkerama bersamaku. Ini hanya mimpi.

Aku ingin bangun lalu memeluk sesosok yang biasa aku peluk.

Namun, bagaimanapun aku menggeleng menampik, kenyataan berbicara sebaliknya.

Di sana, di brankar ruang UGD, ia terbaring lemah. Jangankan untuk membalas candaku, untuk membuka mata saja ia tak mampu. Koma. Bernafas saja ia susah. Entah sudah berapa banyak air mata yang tumpah, perasaanpun sudah begitu berantakan.

Kami pasrah dan berserah. Pilu hatiku, melihat sekujur tubuhnya dipasang banyak alat penopang kehidupan. Tubuhku rasanya mati rasa, lemas, dan tak bertenaga.

“Allah.. Berilah keajaiban dan kesembuhan untuk mama!”, do’a ku dalam hati.

Qoddarallah (atas takdir Allah), saat itu aku sedang berhalangan sholat. Tak bisa ku tumpahkan semua curahan dan pintaku dalam sujud panjang.

Sepanjang malam, tangannya selalu kugenggam dan kucium. Mataku tak berhenti mengawasi monitor alat pendeteksi jantung itu. Takut-takut garisnya berubah menjadi lurus. Dan aku takut, aku adalah orang pertama melihatnya.

Di sampingnya, kulantunkan bacaan Al-Quran. Entahlah, hanya itu yang ada dalam pikiranku, iya Al-Qur’an. Walau bacaanku tersendat-sendat karena tangis yang tak bisa aku tahan. Bersama dengan pikiran yang bercabang aku menemaninya di ruangan yang begitu mencekam.

Ruangan ICU yang dibutuhkan belum ada yang kosong. Jadi terpaksa mama masih dirawat di ruang UGD. Tak pernah setakut ini aku sebelumnya, takut kehilangan seseorang yang amat aku sayangi.

Seseorang yang dengan lapangnya tetap menerima aku meskipun penampilanku jauh berbeda dari diriku sebelumnya. Seseorang yang selalu menjadi tameng pelindung disaat banyak orang mencomooh penampilanku saat ini. Dia, ibuku yang amat aku cintai.

Hari harus tetap berganti, tetapi keadaan mama tidak ada perbaikan.

Alhamdulillah, esoknya dengan pertolongan Allah, mama mendapatkan ruangan yang lebih baik, meskipun bukan ruang ICU karena qoddarallah belum ada yang kosong.

Mama dipindahkan ke ruang observasi. Ruangan pasien dengan penyakit yang berat. Namun tak apa, setidaknya mama akan mendapatkan perawatan intensif dari dokter.

Sudah beberapa kali dokter mengecek kondisi keadaan mama dan menekan dada mama. Namun, tak ada respon dan perbaikan sama sekali.

Mama malah bertambah demam.

Dua tangan dan satu kakinya diinfus. Namun, tetap saja belum ada perbaikan.

Separuh anggota tubuh mama sebelah kanan sudah tidak bisa bergerak sama sekali, stroke. Demamnya pun tak turun-turun.

Pada hari itu pula, kakak perempuanku datang dari Solo. Aku melihat ia tergopoh-gopoh berlari dari lorong rumah sakit menuju ruangan mama. Sama sepertiku, ia juga amat terpukul. Menangis sesenggukan disamping mama.

Aku yang melihatnya hanya bisa diam membisu. Menangis dalam hati. Kemudian dia memelukku, lalu berujar, “Nanti bagaimanapun keadaan mama, kita rawat mama sama-sama, ya!”.

Suaranya terputus-putus oleh tangis. Semua keluarga pun sudah berkumpul di rumah sakit. Baik dari pihak mama atau bapakku. Menjenguk mama. Meminta maaf pada mama yang notabene tak sadarkan diri.

Perasaanku makin tak karuan, bertambah buruk.

Seusai mereka pergi, aku kembali hanya berdua dengan mama. Karena kakak perempuanku menenangkan diri bersama anak-anak dan suaminya.

Perlahan kumendekat lalu kubisikkan ke telinganya “Maa..kalau mama udah nggak kuat, nggak papa, kok! Aku nggak papa, maaf, ya, belum bisa jadi anak yang baik buat mama”, tumpah lagi tangisku. Tak sanggup aku melihatnya tak berdaya.

Hingga malam ke dua keadaan mama belum ada perubahan. Dan kami sudah amat pasrah. Kami sudah berlapang dada akan semua ketetapan-Nya. Biaya pun pas-pasan. Kami tak sanggup membayar biaya operasi yang begitu besarnya.

Keluargaku menyuruhku untuk beristirahat sejenak. Bergantian menjaga dengan yang lain. Akupun pergi ke masjid rumah sakit untuk istirahat.

Sejenak aku menenangkan pikiran. Mencoba menerima apapun takdir-Nya nanti. Di masjid itu juga ternyata ada bibi-bibiku yang sedang menangis. Merasakan sesak yang sama.

Tak lama aku beristirahat, kemudian aku kembali ke dalam rumah sakit. Ternyata masih ada yang berjaga di dalam kamar mama. Aku menunggu di kursi tunggu.

Karena kelelahan, aku tertidur dan aku tak ingat jelas bagaimana mimpi itu. Yang kuingat hanya gelap dan tiba-tiba aku mendengar suara mama, “Doain mama, yaa”. Lalu, aku tersentak bangun. Aku makin pasrah dan berserah kepada Allah.

Kemudian esoknya bahkan hingga malam kembali mama tak ada perubahan sama sekali. Kami tak punya uang banyak dan keluarga sudah pasrah. Akhirnya keluarga besar berunding dan keputusan mereka adalah mama dibawa pulang. Apapun konsekwensinya nanti.

Setelah menyampaikan kepada dokter, dokter memang memberikan informasi terburuk jika alat-alat bantu itu dilepas dari tubuh mama. Namun, itu memang keputusan kami. Akhirnya mama dibawa pulang dan benar beliau menghembuskan nafas terakhir bersama kami, keluarganya.

Yang hilang tak semuanya bisa berganti. Yang pergi tak semuanya bisa datang kembali. Tak ada guna penyesalan. Kasihi ia sebelum pergi. Karena bisa jadi kita yang mendahului atau bahkan ia yang dulu dipanggil Ilahi.

Kamu boleh saja, sekarang menggerutu sebab cerewetnya ibumu. Namun, jangan menyesal jika nanti itu yang akan kamu rindukan. Sosoknya takkan pernah tergantikan. Banyak peluh dan pengorbanan yang rela ia lakukan. Bahkan, hingga nyawapun rela ia pertaruhkan.

Takkan ada dirimu bila Allah tak mengizinkan ibumu untuk melahirkan. Bersusah payah menjalani kehamilan. Namun, ia sambut dan nikmati dengan kebahagiaan. Apa yang sudah kamu lakukan untuknya?

Tidak ada, bukan? Bahkan, jika kamu mampu memberikan bumi dan isinya, itu semua itu takkan bisa membalas semua jasa ibumu. Pernah dengar perkataan Ibnu ‘Abbas radhiyallahu a’nhumaa, beliau berkata,

“Sungguh, aku tidak mengetahui suatu amalan yang bisa mendekatkan diri kepada Allah dari pada berbakti kepada ibu.” (Shahih Al-Adabul Mufrod nomor: 4)

Dan Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَقَضٰى رَبُّكَ اَلَّا تَعْبُدُوْٓا اِلَّآ اِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ اِحْسٰنًاۗ

“Dan Rabbmu telah memerintahkan supaya kalian jangan beribadah kecuali Kepada-Nya dan hendaklah kalian berbuat baik pada ibu dan bapak kalian dengan sebaik-baiknya.” (QS. al-Isra’ :23)

Rasulullah shalallahu ’alaihi wa sallam bersabda,

رغم أنف ثمّ رغم أنف ثمّ رغم أنف,قيل:من يا رسول الله؟ قال:من أدرك أبويه عند الكبر أحد هما أو كليهما فلم يدخل الجنّة

“Sungguh celaka, sungguh celaka, dan sungguh celaka!” Ditanyakan kepada beliau shalallahu ’alaihi wasallam, ‘Siapakah yang Anda maksudkan, wahai Rasulullah?’ Rasulullah shalallahu ’alaihi wasallam bersabda, ‘Orang yang mendapati kedua orang tuanya atau salah satunya sudah berusia senja, tetapi ternyata tidak (menyebabkan ia) masuk surga’.” (HR. Muslim no. 4627)

Renungi lalu benahi. Tak semua kesempatan datang dua kali. Karena bagaimanapun kamu, sudah seberapa besar dirimu, setinggi apa jabatanmu. Cinta ibu tak akan pernah habis dimamah waktu.

Ditulis oleh Sa***, Sahabat Portal Buku dari Tegal

2 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button