Lautan Buku

Inspiratif: Ruang Perpustakaan itu Hidup Kembali

Waktu itu, keurang lebih dua tahun silam..

Suratan takdir membawaku pergi ke pulau seberang. Kembali belajar, melihat kehidupan dari sisi yang berbeda, dari kultur dan budaya masyarakat yang berbeda pula. Aku pun tak menyangka, tetapi juga banyak bersyukur kepada-Nya.

Alhamdulilah, Allah mudahkan diri ini bisa mencicipi manisnya thalabul ilmi di surga para penuntut ilmu.

Setelah menyelesaikan studi, aku pun diminta oleh pihak ma’had untuk membantu di salah satu jenjang pendidikan di pondok itu. Tingkat TN (SMP-SMA), lebih tepatnya.

Dulu aku punya mimpi untuk menjadi guru yang baik.

Kini, mimpi itu di depan mata. Dengan mengucap basmalah, di sinilah kisahku dengan para santriwati dimulai.

Tak terpikir olehku saat itu untuk menjadi guru yang hebat. Cukuplah menjadi bermanfaat. Setidaknya, bisa memberi sedikit dari kebaikan yang saat ini sedang mereka butuhkan.

Aku gemar sekali membaca.

Saat masih jahil, bacaan-bacaan fiksi yang dalam pandanganku saat itu sarat akan pelajaran sempat menjadi makanan sehari-hariku.

Alhamdulilah, hidayah pun menghampiri keluargaku. Buku-buku itu pun perlahan aku tinggalkan. Kuganti dengan membaca buku buku terbitan ahlus sunnah yang penuh hikmah.

Ah! Seketika terbesit dalam benak bahwa di sinilah peranku untuk membantu dakwah.

Ya, aku ingin menumbuhkan minat baca pada generasi muda ini, anak anak salafiyyin, putra putri kaum muslimin.

Arus majunya teknologi telah membuai mereka, bahkan merusak fitrah sebagian orang.

Alhamdulilah, ustadz pimpinan sekaligus pengasuh ma’had sangat mendukung dan bersedia menyediakan sarana-prasarana yang menunjang.

Pertempuran dimulai. Menghidupkan kembali perpustakaan ma’had yang sudah lama lumpuh. Lalu, menumbuhkan kecintaan di hati para santriwati terhadap buku buku yang bermanfaat.

Dukungan kawan-kawan pengajar pun sangat luar biasa. Semoga Allah membalas mereka dengan kebaikan.

Tempat yang akan dijadikan sebagai perpustakaan pun disiapkan.

Kebetulan, ada salah satu kamar kosong yang sudah lama tak terpakai. Kami permak menjadi ruang baca yang nyaman dan mengasyikkan.

Petikan nasihat juga kata-kata motivasi kami tempelkan di dinding ruang. Beberapa lukisan karya santriwati tak lupa dipasang tuk semakin memperindah ruangan, alhamdulilah.

Rezeki dari Allah, salah satu wali santriwati menyumbangkan karpet bulu untuk digelar di perpustakaan.

Struktur kepengurusan pun dibentuk. Memperdayakan pada santriwati yang punya minat dan antusias yang sangat tinggi pada buku.

Baca Juga: Inspiratif: Bagaimana Cara Membiasakan Membaca Buku?

Dimulai dengan membuat jadwal buka perpustakaan, jadwal jaga, jadwal piket ruang perpustakaan, hingga membuat buku data keluar masuknya buku.

Memang butuh proses membuat mereka cinta dan gemar terhadap kebaikan. Semua itu tak lepas dari hidayah-Nya. Berbekal sabar, tawakkal, dan yakin akan pertolongan Allah. Segala puji hanya untuk-Nya.

Setahun kemudian..

Kini, ruang sederhana di pojok bangunan yang sudah lama tak terpakai itu ramai oleh kunjungan para penuntut ilmu.

Buku-buku penuh hikmah yang berjejer rapih di lemari kaca mereka lahap habis.

Tak sedikit dari mereka yang meminjamnya untuk dibaca di luar jam buka perpustakaan. Di sela-sela istirahat, sambil menunggu ustadz atau ustadzah yang datang.

Mata-mata penuh akan keingintahuan itu terus dan terus membaca.

Rasanya terharu ketika melihat mereka yang langsung mengamalkan ilmu yang baru saja mereka dapat dari buku bacaannya.

Tak jarang, mereka meminta agar jam buka perpustakaan ditambah lagi.

 “Ustadzah… Izin buka perpus, ya. Ustadzah nggak usah ikut jaga, ustadzah kan sibuk, kita janji insyaAllah perpustakaannya dijaga, sekalian kita tata dan bersihkan, boleh ya?”, kurang lebih seperti itu, mohon mereka penuh harap.

Tak jarang diri ini senyum senyum sendiri. Syukur dan bahagia saat melihat fenomena yang demikian.

Hujan itu telah reda. Awan hitam pun memudar, membawa pelangi.

Sungguh, ini semua tak datang dari rasa pesimis. Namun, optimis dan usahalah pengundangnya. Hapuslah titik keraguan itu!

Ayo kawan, jangan takut hadapi hujan! payungi langkahmu dengan iman dan temukanlah pelangi impian.

Ditulis oleh Qa**** T******, Sahabat Portal Buku dari Samarinda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button