Kutipan BukuLautan Buku

Catatan Kecil: Tempuhlah Jalan Lebah!

“Subhanallah..!”, gumamku dalam hati saat membuka pucuk halaman 116 kitab al-Fawaid karya fenomenal imam besar Islam, al-‘Allamah Ibnu Qayyim al-Jauziyah rahimahullah.

كن في الدنيا كالنحلة

“Di dunia ini, jadilah dirimu laksana lebah”, kata beliau mengawali.

Tahukah Sahabat, apa istimewa lebah dalam buah permisalan ini? Berikut sekilat ulasan yang menyingkap tabir kehidupan lebah.

Istana Lebah

Bentuk istana lebah biasanya bulatan oval. Bentengnya segi enam yang rapih tersusun. Pernahkah Sahabat cermati, bagaimana segi enam yang tersusun rapi itu dia bangun?

Pakai cetakan, kah? Atau pakai alat tertentu? Atau, bagaimana?

Tidak, Sahabat! Benda-benda itu tak dikenal di kehidupannya. Tak lain itu adalah atsar ciptaan dan wahyu ilahi pada si lebah. Subhanallah!

إن في ذلك لآيات لقوم يتفكرون

” Sungguh, padanya ada tanda-tanda kekuasaan Allah bagi orang yang mau berfikir.”

Taat kepada Allah

Ngomong-ngomong di mana, sih, lebah membangun rumah? Sudah tahu, belum? Nah, ternyata rumah lebah hanya bisa kita jumpai di 3 tempat.

1. Gunung

2. Pohon

3. Atap rumah manusia.

Indahnya alam pegunungan memiliki daya tarik tersendiri bagi si lebah. Sehingga, ia menjadi tempat terfavoritnya.

Setelahnya, tempat favorit lebah adalah pepohonan.

Percaya, enggak? Fakta ini sudah termaktub dalam QS. An-Nahl: 68 sejak 14 abad silam.

وَأَوۡحَىٰ رَبُّكَ إِلَى ٱلنَّحۡلِ أَنِ ٱتَّخِذِی مِنَ ٱلۡجِبَالِ بُیُوتࣰا وَمِنَ ٱلشَّجَرِ وَمِمَّا یَعۡرِشُونَ

Rabbmu mewahyukan (mengilhamkan) kepada bangsa lebah, ‘Buatlah rumahmu di pegunungan, pepohonan, dan tempat-tempat yang manusia buat’.”

Sebagaimana yang pertama Allah sebutkan gunung, di sana lah pemukiman mayoritas lebah. Kedua, pohon. Biasanya di dua tempat ini rumahnya besar-besar. Sehingga madunya pun melimpah ruah.

Masya Allah, kabar gembira, nih bagi ‘assal (pemburu madu). Hehe.

***

Koloni lebah biasa membangun rumah di tiga tempat tadi. Setelah tenang punya rumah permanen, mereka mulai menjelajahi taman bunga dan kebun untuk ‘mengais rezeki’. Seusai bertugas di tempat kerja, mereka pulang ke rumahnya.

Cermati firman Allah berikutnya QS. An-Nahl: 69, Sahabat!

  ثُمَّ كُلِی مِن كُلِّ ٱلثَّمَرَ ٰ⁠تِ فَٱسۡلُكِی سُبُلَ رَبِّكِ ذُلُلࣰاۚ

“Lalu makanlah dari berbagai ragam buah dan tempuhlah jalan-jalan Rabbmu yang dimudahkan bagimu.”

Awal mula Allah perintahkan dia membuat rumah. Lalu, Allah perintahkan memakan makanan yang thayyib dengan cara menempuh usaha yang dimudahkan, dan ia laksanakan dengan sempurna. Allahu Akbar!

Taat Kepada Pemerintah

Ajaibnya lagi, koloni lebah memiliki satu ulul-amri atau pemerintah. “Ya’sub”, atau “ratu lebah”, gelarnya. Ukuran dan bentuknya lebih besar dan lebih indah dari lebah pekerja.

Koloni lebah tak akan hidup sentosa kecuali jika mereka punya pemerintah dan pengatur aktivitas luar-dalam.

Benar-benar hidup mereka serba aturan ratu.

Sampai-sampai, saat kafilah lebah pekerja pulang ke istana, sang ratu berdiri di pintu guna menertibkan kepulangan kafilah. Mereka harus masuk istana satu persatu dengan tenang dan tidak berdesakan.

Herannya, mereka tak setuju memiliki dua ratu di satu istana. Kalau ada dua ratu di satu istana, mereka bersatu padu menghimpun kekuatan untuk mengeksekusi sang ratu. Setelah itu mereka lanjut dengan mutilasi. Duh, tega sekali, ya!

Mereka setia dan tenang dengan satu ratu saja. Uniknya, tak ada istilah musuh dendam satu sama lain karena ratunya dibunuh. Subhanallah!

***

Ada lagi satu titik keajaiban lebah yang lebih mengagumkan. Yaitu tentang proses dia memproduksi madu.

“Yang satu ini, sangat sedikit orang yang tahu”, kata imam Ibnul Qayyim.

Coba Sahabat buka Tafsir Ibnul Qayyim (an-Nahl) tentang yang satu ini, ya. Jangan lupa bagi faedahnya kepada orang lain, terlebih pemesan. Senyum (lagi).

***

Nah, saatnya kita berbenah!

Permisalan Seorang Mukmin dengan Seekor Lebah

 “Jika makan, dia pilih makanan yang thoyyib,” terang Ibnul Qayyim rahimahullah.

Makanan lebah adalah nektar bunga, sesuatu yang thayyib, tidak ada unsur kotor apalagi menjijikan.

Tentunya, seorang mukmin jauh lebih baik dari lebah. Dia tumbuhkan daging dan persendiannya dengan makanan yang halalan thayyiban.

Tujuannya supaya tubuhnya kuat beribadah dan menjalani aktivitas positif harinya.

Usahanya pun tak kalah dengan lebah, ia cari jalan yang Allah ridhai guna menyambung nyawanya. Bukan sembarang jalan.

” Jika memberi makan, dia pilihkan juga yang thayyib”, mengalir lagi untaian indah dari lisan Sang Imam.

Dia memproduksi minuman terbaik, madu. Minuman terekomendasi akan kaya manfaat melalui lisan Nabi dan khasiatnya sudah dibuktikan kalangan luas sejak dulu kala.

***

Seorang mukmin harus lebih gesit menyemai benih-benih kebaikan, khususnya kepada sesama.

Senyum dan doa tulusmu saja bisa menjadi inspirasi dan motivasi tersendiri bagi orang yang terhimpit suatu problematika kehidupan. Apalagi, tak sekadar itu.

Sepatah kata positifmu bahkan bisa jadi pelecut nomor satu bagi saudaramu dalam meraih suatu kebaikan yang besar. Tanpa kau sadari. Karenanya,

ازرع جميلا ولو كان في غير موضعه

فلن يضيع جميل أينما زرعا

“Di mana pun, Semailah kebaikan. Karena di mana pun ia disemai, tak kan pernah tersiakan.”  

***

“Jika jatuh (hinggap) di suatu tempat, ia tidak mematahkan atau pun merusaknya,” tutup beliau rahimahullah.

Lebah bukan binatang perusak, hinggap di tempat yang bersih dan tak meninggalkan jejak kotor.

Mukmin pun demikian seyogianya; Tutur katanya rapih dan sopan. Perbuatannya tak mengundang kerugian.  Keberadaanya menghembuskan kesejukan. Kepergiannya meninggalkan jejak kebaikan.

Selamat menempuh jalan lebah!

Ditulis oleh Ummu Ab*********, Sahabat Portal Buku dari Brebes

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button