Dunia Literasi

Bikin Takjub! 5 Ulama ini Selalu Menulis dan Membaca

Hidup selalu menawarkan banyak pilihan. Bila kita mengambil peluang hidup untuk menulis dan membaca, kita tidaklah mengambil pilihan yang salah.

Kita sebagai pemuda yang meniti jalan para salafnya, ketahuilah bahwa kebaikan mereka tak pernah lepas dari menulis dan membaca.

Sebab, menulis adalah langkah mereka berbagi kebaikan di saat mereka tiada. Sedangkan, membaca adalah jalan mereka untuk meraih pelita hidup di bawah gelapnya dunia.

Hidup Ulama, Antara Menulis dan Membaca

Menulis dan Membaca

Sebuah perpustakaan dipenuhi dengan kitab-kitab karya para ulama. Sederet nama-nama tokoh Islam yang ahli dalam bidang menulis patut diabadikan dengan tinta emas. Tak ayal, dahulu mereka pun adalah manusia-manusia yang menjadi kutu buku, rajin membaca.

Abdullah bin Al-Mubarak

Dalam lembaran sejarah telah disebutkan, dahulu al-Imam Abdullah bin al-Mubarak selalu menyendiri di dalam rumahnya untuk membaca buku dan mempelajari hadist. Kitab hadist yang telah beliau tulis adalah sebanyak dua puluh ribu kitab.

Imam Ahmad Menulis Sepuluh Juta Hadits

Demikian pula al-Imam Ahmad. Putra beliau sendiri pernah mengatakan,

“Ayahku telah menulis sepuluh juta hadist.”

Ibnul Jauzi Menulis 2 Ribu Jilid Buku

Adapun al-Imam Ibnul Jauzi, maka beliau telah membaca lebih dari dua puluh ribu jilid buku, dan telah menulis sebanyak dua ribu jilid buku.

Adz-Dzahabi Menulis 200 karya

Lalu al-Imam adz-Dzahabi, sungguh beliau telah menulis dua ratus lebih karya tulis.

Imam As-Suyuthi Menulis 500 Karya Lebih

Pun dalam sejarah hidup al-Imam as-Suyuthi juga disebutkan, beliau selalu menyendiri bersama kitabnya, dan beliau telah mencatat lebih dari lima ratus karya tulis.

Sungguh, mereka selalu membaca lalu menuangkannya menjadi sebuah karya.

Sejatinya, karya tulis sang alim adalah anaknya yang akan abadi.

Dari karya-karyanya, betapa banyak manusia yang dapat mengikuti jejak amalnya. Itulah manusia yang tak pernah mati. Di saat mereka telah tiada, mereka akan selalu hidup di hati manusia.

Membaca serta menulis adalah ibadah terbaik untuk menyelesaikan waktu semasa hidup di dunia.

Membaca dan Menulis Hingga Wafat

Menulis dan Membaca Hingga Wafat

Ketahuilah! al-Imam Ibnu Rajab al-Hambali wafat ketika menulis Syarah Shahih Bukhari.

Lalu al-Allamah Amin as-Syinqitiy wafat ketika menulis Tafsir Adwaul Bayan.

Duhai jiwa yang mencari kesempurnaan! Bacalah, lalu menulislah!

Kemudian Ingatlah ketika al-Imam Sufyan ats-Tsauri hendak menunggu ajalnya! Beliau tengah menulis sebuah hadist. Lalu, seseorang menegurnya.

Namun, beliau justru berkata, “Apa salahnya?! Bukankah ini perkara baik?! Jika aku masih diberi umur panjang, maka aku telah menulis satu kebaikan. Akan tetapi jika aku mati, maka aku telah menulis satu kebaikan pula.”

Lihat Juga: Sayembara santri menulis di laman resmi Asy-Syariah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button