Dunia Literasi

Yuk, Kenali Apa Itu EIP? Jangan Sampai Anak Kita Menderita Karena Salah Pola Asuh!

Apa itu emotionally immature parents (EIP)?

Sederhananya, EIP adalah ortu yang mengalami emotional loneliness (kesepian secara emosional) selama masa perkembangan kanak-kanak. Kondisi ini, apabila tidak disadari dan diatasi maka berpotensi menmenjadi tidak matang secara emosional di usia dewasa saat menjadi ortu.

Seumur hidup dari lahir hingga akhir hayat, setiap manusia membutuhkan emotional intimacy (keintiman emosional).

Awal mulanya dibangun dari lingkup terkecil dan disediakan oleh orang tua dan keluarga. Sayangnya, tidak semua ortu sadar dan mau mengerti bahwa membangun keintiman emosional itu penting banget.

Yang kayak gimana yang disebut emotional intimacy (keintiman emosional)?

Ada banyak bentuknya.

Mulai dari yang paling mendasar kayak ortu mau mendengarkan, memahami, menerima, terbuka, terhubung, dekat, percaya, dsb. Sehingga, anak merasa aman dan nyaman bersama ortu. Ortu mengenali anaknya bukan semata-semata menilai.

Kurangnya emotional intimacy (keintiman emosional)berpotensi menumbuhkan emotional loneliness (kesepian secara emosional).

Kalau ortu mau berusaha dengan tulus untuk membangun relasi dengan emotional intimacy, maka tidak perlu fafifuwasweswos juga anak akan bisa merasa nyaman, aman, terbuka, dan menghormati orang tua.

Kesepian secara emosional yang tidak disadari dan diatasi inilah yang pada akhirnya dapat diteruskan ke anak dalam pola asuh ketika menjadi ortu.

Maka, saya harap dengan artikel singkat ini, apabila kita merasa keintiman emosionalnya tidak dipenuhi ortu, semoga kita tidak meneruskannya ke anak kita kelak.

***

Lalu, bagaimana, sih, rasanya menjadi anak yang dibesarkan oleh emotionally immature parents (EIP) – orang tua yang belum matang secara emosional?

Disclaimer: Artikel ini tidak dibuat untuk menyalahkan ortu dan pengalaman lampau. Harapannya, artikel ini dapat menjadi bahan refleksi agar kedepannya kita mampu menjadi orang dewasa yang matang secara emosional.

Catatan: Orang tua yang belum matang secara emosional untuk selanjutnya kita sebut dengan EIP pada artikel ini.

***

#1 Komunikasinya sangat susah.

Apa itu EIP?

EIP cenderung komunikasi satu arah, entah hanya dia yang ngomong (memerintah, menuntut, dll) atau diam-diam aja, alias jarang merespon dengan baik. Jadi, si anak kalau mau diskusi susah. Karena ortu seringkali memaksa pendapatnya atau tidak jelas arahannya apa.

EIP juga biasanya ingin menjadi pusat perhatian dalam pembicaraan. Memaksa agar orang lain mendengarkannya. Walhasil kalau menurutnya tidak ada yang mendengarkannya, alih-alih introspeksi dan asertif, malah ngambek. Namun, sendirinya tidak mau mendengarkan orang lain.

#2 Sikap dan perilaku EIP bikan anak merasa kesal atau marah.

Seringkali EIP menunjukkan sikap/perilaku yang menyebalkan tapi tidak terima kalau ada yang menganggapnya demikian.

Ada beberapa kemungkinan respon anak dalam kemarahan di kondisi ini. Dua respon yang paling sering adalah:

  1. Anak memendam amarahnya dan/atau dialihkan ke hal lain atau orang lain karena takut kemarahannya malah bikin situasi kacau.
  2.  Anak bersikap pasif-agresif, menjadi tampak kalem padahal hatinya sangat jengkel.

#3 EIP tidak mau merasa sebal sendirian pada banyak situasi.

Ketika EIP lagi sebal, dia juga mau semua orang di sekitarnya ikutan sebal dengan apa yang lagi dia sebalkan. Seringkali anak dari EIP ini menjadi waswas dan takut salah dalam bersikap. It’s like walking on eggshells (rasanya, seperti berjalan di atas kulit telur).

Bagi EIP, kemarahannya atau perasaan sebalnya hanya bisa diatasi oleh orang lain. Marahnya hanya akan reda apabila orang lain merasakan sesuatu yang menenangkan atau menyenangkan. Dan biasanya, anak-anaknya lah yang dianggap bertanggung jawab untuk itu.

#4 Tidak peka dan sulit berempati. Ingin dimengerti tapi tidak mau mengerti. EIP tidak terbiasa untuk ambil perspektif lain. Apa yang menurutnya benar adalah mutlak.

Anak menjadi kurang punya kesempatan utk merasa dipahami dan saat dewasa, anak sering bingung sama emosinya sendiri.

Kalau anak menegur sikapnya dan menyampaikan apa yang dirasakan, EIP cenderung membela diri. “Ya, Bapak/Ibu kan emang begini orangnya.” “Pokoknya Bapak/Ibu dah ngasih tau, terserah kamu aja lah.” .

#5 Susah dibujuk kalau sudah ngambek. Biasanya EIP menunjukkan sikap ‘guessing game’ alias ayo tebak isi hati dan pikirankuuuu tanpa harus kukasih tau.

Seolah menyiratkan: “Kamu kan anakku, tidak usah dikasih tau juga harusnya kamu tau dong!” Jyakh.

Kondisi ini kerap membuat anak menjadi mudah cemas dan merasa bersalah. Beberapa orang dewasa ragu-ragu dan tidak pede tiap ngambil keputusan karena sejak kecil terbiasa kena ‘guessing game’ atau ‘silent treatment’ dari ortu.

#6 Jarang mengakui kesalahan dan (apalagi) minta maaf.

Apa itu EIP? Portal Buku

Bahkan ketika EIP sadar dia melakukan kesalahan, alih-alih mengaku, mereka cenderung menyalahkan orang lain dan mencari ‘kambing hitam’. “Ya abisnya kamu sih begini, kalau tidak kan Bapak/Ibu tidak begitu.” Iya. Iya.

Minta maaf dari EIP mungkin menjadi kalimat paling mahal dan paling asing yang didengar anak. Bagi sebagian besar EIP, minta maaf itu tidak perlu secara formal menyampaikan, “Bapak/Ibu minta maaf ya, Nak!” Minta maaf bagi EIP itu dengan… yaaa semua kembali kayak biasaaa laaachh~.

#7 Inginnya anak-anak auto-nurut.

EIP punya ekspektasi yang tidak realistis. Yaitu, anak akan meniru apa yang dia lakukan. Namun, dengan sikap yang (menurutnya) sempurna baiknya. Kalau tidak begitu, mereka anggap anaknya tidak nurut.

Ini berpotensi membikin kondisi anak menjadi tidak baik saat dewasa.

#8 Harga diri menurut EIP ada pada kepatuhan anak.

Mereka cenderung menilai anak secara kaku, “nurut atau enggak”, tidak ada pilihan lain.

#9 Peran tiap orang di keluarga tuh keramat bagi EIP.

Kebutuhan utama mereka adalah dihormati dan dituruti, jadi di mata mereka keluarga itu perlu ada semacam ‘struktur’. Tidak ada kesetaraan. Jadi, kalau ada yang dianggapnya tidak sesuai peran dan tidak submisif, bisa bikin EIP jengkel.

“Apaaah? Anak tidak sesuai sama ekspektasiku?? Ndak mau tau alasannya apa, pasti kamu yang salah jadi kamu yang harus berubah yah anakkuuuu~ Dah, ndak usah macem-macem, ikutin aja.”

#10 Membangun relasi dengan anak bukan didasari intimasi (keakraban), tapi dependensi (merasa berkuasa).

EIP lebih senang sama anak yang bisa bergantung ke mereka. Semakin anak bergantung dan tampak butuh mereka, semakin mereka merasa sebagai ortu yang ‘baik’. Karena anak yang dependen biasanya nurut.

Makanya, EIP kurang suka anak yang mandiri dan bisa ‘berani bicara’. Bagi mereka itu ancaman. Nah, inilah yang seringkali melandasi adanya ‘anak kesayangan’ untuk mereka, biasanya yang bisa nurut dan ngikut.

#11 EIP memaknai waktu secara tidak konsisten.

Waktu paling ‘tepat’ bagi EIP adalah sekarang.

Bukan mindful ya, artinya EIP memandang masa lalu dan masa depan terjadinya SEKARANG.

Makanya sering ngungkit masalah di masa lalu atau nakut-nakutin yang terjadi di masa depan.

Sering juga nih, EIP punya pola begini: Janjiin sesuatu — tidak ditepati — minta maaf (tapi tidak sungguh-sungguh, biar cepet adem aja) — tersinggung dan marah kalau orang lain membahas kesalahannya — janjiin lagi — dan seterusnya.

Nah, begitulah kurang lebih apa yang dirasakan anak yang dibesarkan oleh emotionally immature parents (EIP) — orang tua yang tidak matang secara emosional.

***

Tidak ada ortu yang sempurna, tapi jauh lebih baik kalau ortu mau terus belajar memahami dan mencoba mengakui kesalahan. Dekatlah, kalaupun tidak secara fisik tapi coba secara emosional.

Kalau dipikir-pikir, lebih dari setengah jumlah klien-klienku saat ini akar masalahnya adalah relasi dengan orang tua.

Wujud perilaku, pola pikir, respons emosi, dan bahkan gangguannya macam-macam. Saya salut banget, tidak mudah hidup dalam relasi yang buruk dengan ortu dan tetap bertahan.

Maka seringkali saat sesiku, fokusnya adalah pengelolaan diri ke arah yang lebih baik dan membangun ketahanan, tidak banyak membahas masa lalu.

Karena ortu apalagi orang dewasa atau lansia yang hidupnya dah lebih dari setengah abad, kecil kemungkinan mereka mau berubah.

Terima kasihs untuk yang sudah membaca dari awal sampai selesai.

Semoga ada sedikit manfaatnya. Silakan kirim pendapatmu dan pengalamanmu.

***

Tulisan ini dibuat oleh Psikolog, Disyal Arinda dari akun sosial media beliau, semoga Allah memberikan limpahan pahala atas kebaikannya. Untuk diketahui, tulisan ini sedikit mengalami penyusuaian bahasa agar lebih mudah dipahami oleh khalayak umum. Semoga bermanfaat.

Ada yang punya pengalaman seputar dunia pendidikan? Silakan berbagi melalui kolom komentar, ya~

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button